

Terasberita-Makassar. Hujan deras yang disertai angin kencang sejak awal tahun mulai meninggalkan jejak nyata di sudut-sudut Kota Makassar. Sejumlah ruas jalan sempat terganggu, kawasan permukiman dilanda genangan, dan yang paling terasa bagi warga: pohon-pohon besar tumbang tanpa peringatan.
Di balik cuaca ekstrem yang terus berulang, risiko keselamatan publik kini menjadi perhatian utama. Data terbaru menunjukkan bahwa dampaknya bukan lagi sporadis, melainkan sudah memasuki skala yang perlu diantisipasi secara serius.
Lebih dari 100 Pohon Tumbang dalam Sebulan
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar mencatat sebanyak 102 pohon tumbang sepanjang Januari 2026. Seluruh kejadian tersebut dipicu oleh hujan lebat yang disertai angin kencang, kondisi cuaca yang dalam beberapa pekan terakhir melanda wilayah Sulawesi Selatan.
Kepala DLH Kota Makassar, Helmy Budiman, menyebutkan bahwa seluruh pohon tumbang dan genangan air yang muncul telah ditangani di lapangan. Meski demikian, ia menegaskan bahwa cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi dan warga diminta tetap waspada, terutama saat beraktivitas di luar rumah.
Risiko Keselamatan Meningkat, Permintaan Penebangan Naik
Maraknya pohon tumbang memicu kekhawatiran masyarakat, khususnya bagi pengguna jalan dan warga yang tinggal di kawasan padat permukiman. Dalam situasi ini, DLH mencatat lonjakan laporan warga yang meminta pemangkasan maupun penebangan pohon yang dinilai rawan tumbang.
Sepanjang Januari, DLH menerima laporan untuk penanganan 296 pohon dari warga. Dari jumlah tersebut, penebangan dilakukan di 56 titik lokasi yang dinilai memiliki risiko tinggi terhadap keselamatan.
Namun, Helmy menekankan bahwa penanganan pohon tidak bisa dilakukan secara terburu-buru atau atas dasar kekhawatiran semata.
Penebangan Tidak Bisa Sembarangan
Menurut DLH, setiap tindakan pemangkasan atau penebangan harus melalui kajian teknis yang ketat. Penanganan pohon besar, terutama di tengah permukiman, justru berpotensi menimbulkan bahaya baru jika tidak direncanakan dengan baik.
Beberapa aspek yang menjadi pertimbangan teknis antara lain arah rebahan batang, keberadaan jaringan listrik dan kabel internet, hingga risiko kerusakan bangunan di sekitarnya. Kesalahan kecil dalam proses penanganan dapat berujung pada kecelakaan serius.
Karena itu, setiap rencana penebangan wajib diawali survei lapangan dan supervisi teknis oleh petugas berwenang. Prosedur administrasi resmi melalui DLH juga menjadi syarat mutlak sebelum tindakan dilakukan.
Mitigasi di Tengah Cuaca Ekstrem
Data pohon tumbang sepanjang Januari mencerminkan tingginya risiko cuaca ekstrem terhadap lingkungan perkotaan. Bagi pemerintah kota, kondisi ini menjadi sinyal penting untuk memperkuat mitigasi, baik melalui pemantauan rutin pohon tua maupun respons cepat saat terjadi insiden.
Bagi warga, kehati-hatian menjadi kunci. Menghindari berteduh di bawah pohon besar saat hujan dan angin kencang, serta melaporkan pohon rawan tumbang melalui jalur resmi, menjadi langkah sederhana namun krusial untuk mengurangi risiko.
Dengan cuaca yang masih sulit diprediksi, upaya menjaga keselamatan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan kesadaran bersama agar potensi bencana di ruang kota bisa ditekan sejak dini.(*)