

Terasberita-Makassar. Di lorong sempit Jalan Labu, Kecamatan Bontoala, Kota Makassar, suara besi beradu dan aroma minyak bercampur asap samar menjadi penanda aktivitas yang tidak biasa.
Di balik tembok bata bangunan tua itu, seorang pemuda bernama Darwin (39), Afif dan Dahlin menjalankan pekerjaan yang mungkin tidak tampak mewah, tetapi menyimpan dampak besar bagi lingkungan.
Darwin bukan insinyur lulusan perguruan tinggi. Ia belajar secara otodidak, berbekal rasa penasaran dan kepedulian terhadap lingkungan tempat ia tumbuh.
Di bengkel kecil yang ia dirikan bersama keluarganya, limbah oli dan sampah plastik bukan dianggap masalah, melainkan peluang.
“Kalau dibiarkan, limbah-limbah ini cuma mencemari kampung. Tapi kalau diolah, bisa jadi bermanfaat,” ucap Darwin sambil mengelap tangannya yang hitam oleh sisa minyak, Rabu (11/2/2026).
Bengkel Kecil yang Menampung Masalah Besar
Setiap hari, Darwin bersama kawan-kawannya mengumpulkan plastik bekas kemasan dari warga dan pemulung sekitar.
Karung-karung besar berwarna kuning dan hitam menjadi saksi banyaknya sampah rumah tangga yang biasanya berakhir di saluran drainase atau dibakar di pinggir jalan.
Di sudut lain, jeriken berisi oli bekas kendaraan dari bengkel tetangga ditampung dengan rapi.
Limbah-limbah itu kemudian diolah dengan peralatan sederhana hasil rakitannya: drum pemanas, rangka besi bekas, dan wadah kaca sebagai tempat pemisahan.
Meski tampak sederhana, proses yang ia lakukan bertujuan satu: mengurangi limbah, sekaligus menghasilkan bahan bakar alternatif untuk kebutuhan bengkel dan warga sekitar.
“Tidak semua orang punya akses untuk mengolah sampah. Saya coba mulai dari tempat saya sendiri,” ucap Darwin.
Tekad Lingkungan di Tengah Perkampungan Padat
Kawasan Bontoala dikenal sebagai area padat penduduk. Ruang terbatas membuat sampah sering menjadi masalah klasik. Darwin melihat persoalan itu dari dekat sejak kecil, botol plastik hanyut di got, oli bekas dibuang begitu saja di tanah, dan asap pembakaran sampah menyesakkan udara.
Di ruang kerja berlantai semen yang menghitam oleh residu minyak, Darwin bekerja tanpa henti. Ia menata wadah, menyalakan pemanas, dan memantau proses pemisahan dengan ketelitian yang ia pelajari sendiri. Meski alatnya sederhana, ia berusaha menjalankan proses seaman mungkin.
“Alat saya mungkin belum seperti pabrik besar, tapi tujuannya sama: menjaga lingkungan,” ujarnya.
Hasil olahan Darwin bukan sekadar botol berisi cairan hitam. Di tangan warga sekitar, cairan tersebut menjadi bahan bakar alternatif bagi kompor minyak, pembersih kerak mesin, atau pengganti oli kasar untuk kendaraan tua.
Plastik yang biasanya tidak memiliki nilai jual di bank sampah, kini punya kehidupan kedua.
“Banyak yang datang minta bahan bakar buat keperluan bengkel atau rumah. Saya kasih harga murah saja. Yang penting bermanfaat,” katanya.
Kemandirian Energi dari Jalan Kecil di Makassar
Darwin adalah potret generasi muda yang tidak menunggu perubahan datang dari luar.
Dengan kreativitas dan keberanian mencoba, ia membuktikan bahwa solusi lingkungan bisa lahir dari ruang sekecil lorong kampung.
Praktiknya memang masih jauh dari skala industri, tetapi gagasannya tentang ekonomi sirkular berjalan nyata, di tengah keterbatasan alat dan modal.
“Kalau kelak ada pelatihan atau bantuan alat yang lebih aman, saya mau belajar, supaya hasilnya lebih bagus dan tetap ramah lingkungan,” ujar Darwin.
Gerakan Kecil yang Menginspirasi
Di tengah meningkatnya isu sampah plastik dan pencemaran minyak di kota-kota besar, kisah Darwin menyiratkan harapan.
Bahwa inovasi tidak melulu butuh laboratorium modern. Kadang, ia lahir dari keberanian seorang pemuda kampung yang melihat masalah di depan mata dan memutuskan untuk bertindak.
Dari lorong Jalan Labu, Makassar, Darwin mengingatkan bahwa perubahan lingkungan dimulai dari langkah kecil yang dilakukan dengan tekun, hari demi hari.
Kabar tentang aktivitas Darwin, pemuda Jalan Labu, Bontoala, yang mengolah limbah oli dan sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif, akhirnya sampai ke Balai Kota Makassar.
Di tengah agenda padatnya, Wali Kota Makassar Munafri Arifudin memberikan tanggapan yang menyoroti pentingnya gerakan lingkungan dari masyarakat akar rumput.
Dalam kesempatan wawancara usai menghadiri sebuah acara dinas, Munafri menyebut apa yang dilakukan Darwin sebagai contoh konkret kreativitas warga kota dalam menghadapi persoalan sampah yang semakin kompleks.
“Ini bukti bahwa inovasi tidak harus menunggu fasilitas besar. Ada anak muda di lorong yang punya kepedulian dan mau berbuat. Kita apresiasi semangat seperti itu,” ujar Munafri.
Dorongan untuk Pendampingan dan Edukasi
Namun, di balik apresiasi tersebut, Munafri menegaskan pentingnya pendampingan teknis dari dinas terkait agar upaya seperti yang dilakukan Darwin dapat berkembang dengan lebih aman dan berkelanjutan.
“Semangatnya sangat positif, tetapi kami ingin memastikan proses pengolahan limbah dilakukan dengan standar keselamatan dan lingkungan yang benar. Dinas Lingkungan Hidup dan perumahan akan kami minta turun melakukan asesmen,” jelasnya.
Menurut dia, pemerintah kota memiliki program pengembangan bank sampah, eco-village, dan inovasi energi terbarukan skala kecil yang bisa diintegrasikan dengan inisiatif warga seperti Darwin.
Munafri mengungkapkan optimismenya bahwa Makassar dapat menjadi kota yang lebih bersih dan inovatif, jika kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat diperkuat.
“Darwin memberi contoh. Tugas kami adalah memastikan semangat itu tidak padam, dan memberi ruang agar tumbuh menjadi gerakan kota,” pungkasnya.(*)