

Terasberita-Makassar. Pemantauan hilal di Sulawesi Selatan menunjukkan posisi bulan masih di bawah ufuk. Kepala Kanwil Kemenag Sulsel Ali Yafid menegaskan, Sidang Isbat tetap menjadi mekanisme resmi pemerintah Indonesia untuk menetapkan awal Ramadan 1447 Hijriah.
H. Ali Yafid menyampaikan hal ini saat kegiatan pemantauan hilal yang digelar oleh Kemenag Sulsel bersama Badan Hisab Rukyat dan BMKG di Observatorium Menara Iqra Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Selasa (17/2/2026).
Menurut Ali Yafid, sidang isbat secara historis selalu menjadi rujukan penentuan awal Ramadan dan Idul Fitri di Indonesia. Meskipun dalam dua tahun terakhir muncul dinamika perbedaan penetapan di masyarakat, pemerintah melalui Kemenag berperan sebagai penyatu.
“Sidang isbat selalu jadi faktor penentu lebaran dan puasa. Dalam dua tahun terakhir memang ada perkembangan, tapi Kemenag berusaha menjadi media penyatu dalam penentuan hari penting keagamaan,” jelasnya.
Ali Yafid menjelaskan bahwa perbedaan metode antara ormas Islam adalah bagian dari khazanah fikih. Muhammadiyah, misalnya, menggunakan hisab sebagai dasar dan rukyat sebagai konfirmasi, sementara ormas lain menjadikan rukyat sebagai acuan utama.
Pemantauan hilal tahun ini dilakukan di 96 titik di Indonesia, termasuk Makassar. Data dari Badan Hisab Rukyat dan BMKG menunjukkan, wujud hilal saat terbenam matahari masih berada pada posisi minus 1 derajat 5 menit, sehingga hampir mustahil terlihat.
Selain ketinggian hilal dan sudut elongasi, kondisi cuaca juga menjadi tantangan. “Bisa karena mendung, atau posisi hilal yang rendah. Semua faktor itu dipertimbangkan secara cermat,” kata Ali Yafid.
Indonesia menggunakan kriteria visibilitas hilal MABIMS (Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura): ketinggian minimal 3 derajat di atas ufuk dan elongasi minimal 6,4 derajat. Kriteria ini menggantikan ketinggian 2 derajat yang sebelumnya digunakan, karena hilal hampir tidak terlihat pada ketinggian rendah.
Hasil pengamatan hilal akan dilaporkan ke Kemenag RI untuk menjadi bahan pertimbangan Sidang Isbat yang digelar malam ini di Jakarta.
Ali Yafid mengajak masyarakat untuk tetap menjaga persatuan, mencontoh pengalaman Sulsel yang mampu tetap rukun meski ada perbedaan awal Ramadan.
Ali Yafid menekankan agar masyarakat tidak terjebak dalam perdebatan yang tidak produktif.
“Marilah kita hidup rukun di tengah perbedaan. Indonesia dan Sulsel telah berpengalaman menyatu dalam perbedaan penentuan 1 Ramadan,” pungkasnya.
Pemerintah juga menyinggung gagasan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang mulai dibahas di forum internasional. Namun, Indonesia tetap berpegang pada kriteria MABIMS sebagai dasar resmi penetapan awal Ramadan. Dengan pendekatan ilmiah dan musyawarah, diharapkan keputusan Sidang Isbat diterima dengan bijak oleh seluruh masyarakat.(*)