NAMA GAMBAR

Polrestabes Makassar Siagakan 300 Personel, Amankan Perayaan Imlek dan Ramadan 2026 di Makassar

waktu baca 2 minutes
Senin, 16 Feb 2026 10:35 0 9 Redaksi

Terasberita-Makassar. Menjelang perayaan Imlek dan bulan suci Ramadan 2026 yang berlangsung bersamaan di Kota Makassar, Polrestabes Makassar mengambil langkah tegas.

Yakni, menyiapkan pengamanan ketat melibatkan 300 personel. Langkah ini bertujuan memastikan kedua momentum besar tersebut berlangsung aman dan kondusif tanpa gangguan ketertiban.

Kombes Pol Arya Perdana, Kapolrestabes Makassar, menegaskan bahwa pengamanan Imlek akan difokuskan pada sejumlah klenteng dan lokasi pertunjukan Barongsai yang menjadi bagian penting dari rangkaian perayaan.

“Kita sudah siapkan pengamanan di titik-titik yang ada Barongsai,” jelasnya saat ditemui usai menghadiri Sidang Dewan Pleno Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) di Four Points by Sheraton Makassar, Minggu (15/2/2026).

Selain itu, Arya Perdana menambahkan bahwa selama Ramadan, pengamanan rutin di masjid-masjid akan diperketat dengan menggelar operasi khusus untuk menjaga ketertiban masyarakat selama pelaksanaan ibadah puasa.

“Seperti biasa, kami melakukan pengamanan di masjid-masjid. Nanti ada operasi khusus,” katanya.

Kapolrestabes juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan kegiatan Sahur on The Road yang kerap memicu gangguan ketertiban.

Ia menegaskan bahwa pihak kepolisian akan melaksanakan patroli bersama-sama untuk mengantisipasi hal tersebut.

“Engga ada (Sahur on The Road). Kita akan melaksanakan patroli bersama-sama,” pungkasnya.

Kombes Arya Perdana optimistis dengan langkah-langkah pengamanan yang telah direncanakan, perayaan Imlek dan Ramadan di Kota Anging Mammiri dapat berlangsung dengan aman dan nyaman bagi seluruh warga.

Sementara itu, umat Islam di Indonesia tengah mempersiapkan menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah atau 2026 Masehi. Namun, potensi perbedaan pandangan soal penetapan awal Ramadan masih mungkin terjadi di tengah masyarakat.

Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama, Arsad Hidayat, menjelaskan bahwa perbedaan tersebut wajar karena adanya variasi metode penentuan awal bulan hijriah.

“Sebenarnya kalau berbeda itu biasa gitu, karena cara pandang kemudian cara penetapan dari ormas-ormas Islam tersebut tidak sama,” katanya di Jakarta, Selasa.

Arsad menerangkan ada beberapa pendekatan yang digunakan, antara lain metode hisab, rukyatul hilal, dan konsep Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

“Kalau istilahnya Prof Thomas Djamaluddin (astronom BRIN) itu ada hilal global dan hilal lokal. Jelas kalau hilal lokal dengan hilal global, itu sudah pasti berbeda,” bebernya.

Dia menambahkan, pemerintah melalui Kementerian Agama menggelar sidang isbat sebagai forum musyawarah untuk menyikapi perbedaan tersebut.

Seluruh organisasi kemasyarakatan Islam diundang untuk menyampaikan pandangan masing-masing.

Muhammadiyah telah menetapkan awal puasa 1 Ramadan jatuh pada 18 Februari 2026 berdasarkan perhitungan astronomis.

Namun, tanggal resmi untuk seluruh Indonesia akan ditentukan melalui Sidang Isbat Kemenag pada 17 Februari 2026.(*)

LAINNYA