

Terasberita-Makassar. Komitmen Pemerintah Kota Makassar dalam menyukseskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor.
Hal ini terlihat dalam rapat koordinasi yang digelar di Ruang Sipakatau Balaikota Makassar, yang melibatkan Dinas Ketahanan Pangan, jajaran pemerintah kota, Perumda Pasar Makassar, serta mitra Badan Gizi Nasional.
Dalam pertemuan tersebut, Direktur Utama Perumda Pasar Makassar, Ali Gauli Arief, menegaskan pentingnya memastikan keberlanjutan program pemerintah melalui penguatan sistem distribusi pangan yang terukur dan pasti.
Menurutnya, kebutuhan bahan pokok dalam program MBG sangat besar, bahkan satu Satuan Dasar Terpadu Pendidikan Guru (SDTPG) dapat melayani hingga 3.500 siswa per hari, sehingga diperlukan kepastian pasokan yang konsisten.
“Yang paling penting adalah memberikan kepastian. Jangan sampai saat kebutuhan tinggi, pasokan tidak terjaga. Ini yang ingin kita atur bersama agar ekosistem berjalan baik,” ujarnya.
Film Akal Imitasi Angkat Kisah Pendidikan dan AI, Syuting Perdana di Makassar
Ribuan Dapur Makan Bergizi Gratis di Indonesia Timur Disuspend
Promo April Deals Aerotel Smile Makassar, Harga Kamar Mulai Rp400 Ribu per Malam
BKPAD Makassar Umumkan Penjualan Scrap Kendaraan Dinas, Cek Unit Mulai 1 April
Ia juga menyoroti dinamika harga komoditas menjelang Ramadan dan Idulfitri, di mana terjadi fluktuasi signifikan pada bahan pangan seperti ayam, telur, dan susu akibat tingginya permintaan, termasuk dari program MBG.
Sebagai solusi, Perumda Pasar menghadirkan konsep Baruga Pasar, yang berfungsi menjaga stabilitas harga dan memastikan distribusi pangan tetap terkendali. keberadaan 18 pasar induk menjadi tulang punggung dalam menjaga ketersediaan stok. Selain itu, diharapkan setiap SPPG ditiap wilayah bisa mengunjungi pasar-pasar induk terdekat di kecamatan masing-masing. Untuk memudahkan pendistribusian bahan pangan secara langsung.
Ali Gauli menekankan bahwa penguatan ekosistem pangan bukan untuk memotong rantai distribusi, melainkan untuk memberikan kepastian bagi seluruh pelaku, mulai dari petani hingga konsumen akhir.
Ia menyebut, dengan adanya data kebutuhan Perumda Pasar siap menjadi mediator dalam memastikan ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan.
“Kalau data kebutuhan tersedia, kami bisa memastikan distribusi lebih terarah. Jangan tunggu masalah muncul baru kita bertindak,” tambahnya.
Sementara itu, Asisten II Bidang Ekonomi Kota Makassar, Drs. Zainal Ibrahim, M.Si, menegaskan bahwa program MBG bukan hanya soal pemenuhan gizi, tetapi juga menjadi instrumen strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
Ia menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari prioritas nasional yang berdampak langsung pada perputaran ekonomi masyarakat, mulai dari petani, peternak, pedagang, hingga sektor distribusi.
“Anggaran yang besar akan berputar di masyarakat. Ini menjadi stimulus ekonomi yang signifikan jika dikelola dengan baik,” jelasnya.
Namun demikian, ia mengingatkan pentingnya efisiensi birokrasi untuk menekan nilai Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yang masih tinggi di Indonesia.
Berdasarkan data Badan Gizi Nasional, pelaksanaan MBG di Kota Makassar menunjukkan perkembangan positif: Menjangkau 241.237 penerima manfaat dengan produksi harian yang sama. Beroperasi selama 20 hari per bulan, mengcover 15 kecamatan.
Dengan sinergi ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas gizi masyarakat, juga menjaga stabilitas ekonomi daerah dan memperkuat ketahanan pangan di Kota Makassar.(*)